Skip to content


Menebus Impian, sebuah Film MLM

Acara keluarga Permata Martapura minggu kemarin adalah menemani Akhtar Ibrahim nonton sebuah film pendidikan – paling tidak itu lah yang disebut ibu guru TK Sandhy Putra – dengan judul Menebus Impian. Dalam bayangan pasti lah film ini mengisahkan perjuangan hidup anak-anak hingga dewasa. Seperti film “Sang Pemimpi” yang sudah kami tonton bulan sebelumnya.

Ternyata kami salah besar. Film Menebus Impian adalah sebuah film remaja, tidak cocok sama sekali untuk anak TK seperti anak saya. Terbukti, hampir sepanjang pemutaran film, anak-anak TK Sandhy Putra, termasuk anak saya, cuma bermain berlarian ke sana-sini di dalam bioskop.

Overall, fim remaja ini cukup menghibur dengan cerita yang menarik tentang perjuangan seorang gadis remaja dan ibunya. Liku liku perjuangan hidup seorang tukang cuci yang ingin anaknya sukses melalui jalur kuliah. Namun ternyata sang anak menemukan jalannya sendiri untuk menggapai sukses, mengontrak rumah yang lebih bagus, bahkan pada akhirnya mendapat mobil dan rumah mewah.

Namun pesan yang saya tangkap dari film ini adalah penyesatan. Ya, MLM menyesatkan dan menjebak. Konsep piramida – yang sering dipungkiri oleh MLM – tidak dapat survive. Sangat tidak mungkin untuk membangun piramida terus menerus, yang artinya juga akan selalu ada downline yang tidak mendapat kan apa-apa. Kalau MLM menyatakan semua pasti berhasil itu adalah jebakan dan penyesatan.

Search tentang Film Menebus Imian dan MLM saya mendapatkan banyak pembelaan bahwa katanya konsep MLM sudah dipakai oleh hampir semua marketing produk dengan adanya produsen, wholesaler, distributor, agen, dan pengecer. Bahkan katanya sunlight juga menjual sabun dengan cara MLM . . . sebuah analogi yang mengada-ada.

Perbedaan antara MLM dengan distribusi normal adalah bahwa ada arus barang dan jasa yang “masuk akal” dari atas ke bawah sebagai kompensasi arus uang dari bawah ke atas. Ya.. ya.. para militan MLM mungkin akan mengatakan bahwa produk/jasa yang ada di MLMnya adalah “masuk akal” atau bahkan terbaik. Kalau begitu pembeda yang lainnya adalah bahwa distribusi barang/jasa pada jalur distribusi normal akan terbatas (baik oleh sistem ataupun oleh kompetisi), tidak seperti MLM yang bisa dibilang tidak terbatas. Dengan beda yang kedua tersebut maka biaya distribusi (atau tepatnya bagi-bagi keuntungan di level) di MLM akan jauh lebih tinggi yang pada akhirnya dibebankan kepada harga barang.

Di jalur distribusi normal kita ada pilihan untuk masuk sistem (wholesaler, distributor, agen, retailer) yang akan mendapat keuntungan atau sebagai konsumen yang mendapatkan harga yang wajar. Di MLM kita diberi pilihan untuk masuk sistem (yg jelas pasti masuk dari level terbawah) dan mendapat keuntungan tergantung jaringan yg kita bangun, atau menjadi konsumen dengan harga yang tidak wajar. Harga di MLM tidak akan wajar karena di dalam sistem ekslusifnya tidak mengenal kompetisi. Bahkan mungkin sebenarnya barang di MLM adalah barang yang kualitas jelek dan ongkos produksi tinggi sehingga kalau dipasarkan normal akan kalah bersaing dengan yang kualitas tinggi dan harga kompetitif. Ya akhirnya dipilih orang-orang yang gampang ditipu untuk memasarkannya.

Saya tidak bilang bahwa bergelut di MLM itu tidak akan sukses. Pasti ada yang sukses kok di MLM. Syaratnya harus militan dan tidak berhati nurani. Kunci lainnya untuk sukses adalah dengan membuat MLM sendiri tentunya, otomatis sudah bertengger di posisi atas. Terus keluarga kita dijadikan member-member juga agar menjadi tingkat atas piramida juga, ya kali 001 lah. Jangan masuk MLM yang sudah berumur di atas (katakanlah )5 tahun. Mencari downline sudah jenuh. Jadi kemungkinan berhasil itu sangat sangat kecil banget. Lebih baik masuk MLM baru, atau ya seperti paragraf di atas, buat MLm sendiri.

Kembali ke fiml Menebus Impian, banyak hal yang menarik dari situ tentang MLM di dalam fim ini.

  1. Pemain utama, Nur, tidak berani menyebut MLM Grand Vision sebagai MLM. Saat ada yang mencemooh “Ah .. MLM”, si Nur dengan cepat menyanggah, “Bukan.. bukan MLM”. Lha terus apa. Dengar dengar juga teman-teman MLMer tidak berani menyebut MLMnya sebagai MLM. Mengajak pertemuan (untuk prospek) pun tidak berani menyebutnya secara jelas, biasanya disebut seminar bisnir, seminar ini lah, itu lah.
  2. Si Nur pontang panting ke sana kemari mencari downline dan memprospek. Di sini tidak kelihatan sekali bahwa MLM itu memberikan waktu luang kepada pelaku, seperti yang sering digemborkan oleh MLMer.
  3. Si Nur sempat goyah dan “gagal” – maaf salah, di MLM tidak istilah gagal tapi keberhasilan yang tertunda – karena ada temannya yang mengajaki downline si Nur ikut Money Game. Wah susah banget ya memelihara jaringan di dalam MLM.
  4. Semua ‘filsafat’ MLM di dalam film ini adalah benar, menurut saya. Kita harus punya mimpi lah, kita harus punya visi lah, kita harus memanfaatkan aset lah, bla.. bla.. bla. Cuma keliru nya kok kesimpulannya itu MLM. Cari2 di forum ternyata banyak yang memanfaatkan motivasi-motivasi ala MLM tersebut untuk bisnir real dan cukup berhasil.
  5. Yang paling aneh tiba tiba si Nur mendapat mobil dan rumah mewah. Ini sangat mungkin jika si Nur berada di level atas piramida.

Jika anda alergi MLM lebih baik tidak menonton film Menebus Impian.

Lebih baik jalan-jalan ke http://mbelgedez.wordpress.com/2007/08/15/bisnis-mlm-menipu-dan-haram/

Hasil Pencarian:

No related posts.

Posted in Berita.

Tagged with , , , , .


7 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. zoesrizal says

    stuju pak…… sy pernah berdiskusi dengan bintang MLM, namun saat dia terpojok dia segera menghilang tiba2…. (yg mana pada awalnya mau ajak bersilaturohim, namun dengan tegas sy bilang dont talk about bussines)…….. orang MLM teori doang taunya….. gayanya educated, aslinya…..???? (gak jauh ama tukang ngamen…)

  2. anti MLM Gadungan says

    saya yakin … anda adalah korban MLM gadungan dan pastinya gak pernah sukses … Apalagi anda selalu mengambil referensi dari perspektif anda sendiri atas kegagalan anda … wah wah … kalau yang anda ikuti pastilah MLM gadungan … ya beginilah hasil pendapatnya … rata-rata korban MLM adalah korban MLM gadungan atau MLM nya baik tapi Orangnya yang gadungan … belum aktivitas apa-apa … tapi ngecapnya kayak udah bertahun-tahun ikut MLM …

    • Admin says

      Om Anti MLM Gadungan, thanks sudah mampir. Kalau berbicara tentang MLM tak akan habis berminggu-minggu, apalagi dengan orang seperti anda. Baik buruk MLM sepertinya tidak perlu di ulas di sini karena memang posting ini tujuannya tidak untuk membahas MLM, tapi membahas film.
      Yang jelas, saya belum pernah masuk MLM manapun Om.

  3. agung says

    @steve: mlm.. hmmm… gimana ya… sistemnya nggak masuk akal… hmmm… nggak usah diperpanjang lagi.. dan nggak usah diperdebatkan lagi… benr 100%.
    lha gimana.. prosentase yang berhasil dengan yang gagal banyakan yang gagal…
    bener banget bahwa kalo ada anak sekolah yang nggak lulus.. yang disuruh belajar adalah anaknya… tapi… kalo dari 1000 orang siswa… yang lulus cuman 5…. ya nggak perlu nyekolahin anak kita di situ kan untuk merasakan apa bener yang lulus cuman 5 orang… cukup dilihat track record dari orang-2 yang sekolah di situ… kalo anda berani menyekolahkan anak anda di situ (dimana yang lulus cuman 5 orang)… selamat buat anda. anak anda cuman punya kesempatan lulus 0, nol sekian persen….
    saya rasa pak/bu permata yang punya anak tk juga bakalan nggak mau menyekolahkan anaknya nanti di sd/smp/sma macam begitu…meskipun diiming-2ngi bmw, kapal pesiar, jalan-2 ke thailand, pesawat.. de el el…

    kembali ke masalah film dan realitanya… aneh menurut saya… berdasarkan pengalaman orang-2 yang ikut dalam mlm yang menseponsori film di atas… buat masuk keanggotaan saja mesti bayar sekian puluh ribu… kemudian supaya naik pangkat (istilahnya bintang berapa gitu…) mesti beli produk sekian juta. datang ke seminar (istilah mereka) mesti pake baju resmi.. dan bayar pula… nonsense kalo kelasnya adalah ekonomi bawah bisa melakukannya (kecuali ngutang ke rentenir tentunya). jadi menurut saya film tersebut adalah.. pembodohan. terus si nur itu dapet duit buat beli produk, seminar, masuk keanggotaan itu dari mana??

    yang disesalkan… kenapa sih kok dikasih nonton ke anak tk… jangan-2 guru tk nya ini adalah distributor… (yang pasti dapet komisi n bonus).

    dan konon.. beberapa bulan yang lalu (januari-febuari) banyak tuh distributornya yang mengatakan akan box office lah… masuk rekor muri lah… tapi kok anehnya tiketnya dijual ke anak -2 tk…

    btw.. film ini benarean diputer di bioskop ya??? kalo boleh tau yang nonton banyak atau sedikit… kota saya nggak ada bioskop soalnya… terima kasih…

    • Admin says

      Pak Agung, terima kasih telah berkunjung dan komen.

      Memang posting kami ini berawal karena kekecewaan ticket yang dibagi (dijual) ke anak-anak TK adalah film yang tidak pas. Tidak tahu apakah ada salah satu penyuka MLM di TK tempat anak kami sekolah atau tidak. Jumlah penonton di bioskop saat itu ramai, ya mayoritas anak-anak TK dan orang tuanya. Kalau pengunjung yang sukarela datang untuk menonto Acha mungkin banyak juga pada waktu yang lain.

  4. Admin says

    Pak Steve. Tulisan ini memang menunjukan bahwa saya anti MLM. Memang perlu ketegasan dalam menempatkan di mana posisi kita, jangan plin plan. Tulisan ini muncul dikarenakan kekecewaan saya terhadap film yang ditonton.
    Selanjutnya, untuk menilai obyektif suatu permasalahan saya pikir tidak perlu bergabung pak. Untuk menyatakan bahwa minuman keras itu buruk, saya tidak perlu mencobanya Pak. Cukup melakukan riset baca ini itu dan menyimpulkan berdasarkan hikmat sendiri.

    Terima kasih telah memberikan komentarnya Pak.

  5. Steve says

    Mohon maaf sebelumnya. Saya memang bukan MLMer atau pernah tergabung dalam bisnis MLM. Tapi melihat tulisan Anda, terlihat sekali bahwa Anda sangat memojokkan MLM. Bukannya saya membela MLM dan MLMer, tapi tulisan Anda akan lebih obyektif jika Anda sendiri pernah tergabung dalam suatu bisnis MLM, baik itu sukses ataupun gagal. Karena suatu bisnis, baik yang real ataupun yang tidak real akan lebih mudah dipahami jika yang bersangkutan terlibat di dalamnya. Terima kasih dan sekali lagi mohon maaf bila kata2 saya menyinggung Anda.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.